something has remains me of a moment.. many years ago..

pertama kali aku tergugah dalam setiap kata yang kau ucap
bila malam t’lah datang terkadang ingin ku tulis semua perasaan

pejamkan mata bila ku ingin bernafas lega
dalam anganku.. aku berada di satu persimpangan jalan
yang sulit ku pilih

ku peluk semua indah hidupku
hikmah yang kurasa sangat tulus
ada dan tiada cinta bagiku tak mengapa
namun ada yang hilang.. separuh diriku

‘Bimbang’ – Melly Goeslaw

everything has changed and would never be the same anymore..

— phmG iwm ba08–

Bulan Nov/Des 2007 lalu, pada satu halaman penuh surat kabar nasional terpasang iklan besar sebuah stasiun televisi berlogo matahari jingga yang berhasil meraih audience share tertinggi untuk beberapa minggu terakhir. Dengan bangga mereka mencantumkan nama2 acara judul2 sinetron dan gambar2 dari tayangan yang menjadi andalan mereka.

Beberapa minggu kemudian muncul lagi iklan yang mirip, tapi kali ini bintang iklannya adalah stasiun televisi lain yang berlambang ikan terbang. Mereka meraih kembali posisi numero uno dengan mengandalkan program acara reality show, yaitu acara2 yang merupakan gabungan dari kontes menyanyi para artis atau tokoh bukan penyanyi dan lawakan presenter plus jurinya.

Rating dan share memang menjadi hal yang seolah di ‘dewa’ kan stasiun tv. Karena teorinya, makin tinggi rating suatu acara, maka makin banyaklah pemasang iklan. Semakin banyak iklan maka semakin besar pemasukan, sehingga menguntungkan perusahaan. Benarkah demikian?

Teori bisnis mengajarkan:

“pasar adalah esensi bagi dunia usaha, maka hanya pengusaha yang berorientasi pasarlah yang akan sukses”

Namun pasar tidaklah tunggal, ia terbagi2 menurut beberapa kategori. Untuk industri televisi di Indonesia, AGBNielsen yang menjadi rujukan (utama) untuk mengukur rating dan audiance share membagi pasar penonton televisi menurut kategori A B C D E. A berarti kaya sampai sangat kaya raya, B nyaris kaya, C menengah, D miskin, dan E sangat miskin. Hanya saja, pada tulisan ini saya tidak akan membahas tentang hal tersebut, bagi yang berminat mungkin bisa berkunjung ke blog-nya Glenn Marsalim yang pernah memprotes mengulas secara umum dan menarik ttg pembagian kasta ini.

Meraih rating tinggi memang hampir selalu berbanding lurus dengan naiknya pemasukan iklan. Tetapi secara keseluruhan jika income tersebut di potong biaya produksi maka belum tentu tayangan dengan rating tinggi selalu berarti menguntungkan buat perusahaan. Salah berhitung bisa2 malah membuat rugi, seperti yang telah dialami oleh televisi ‘cap ikan terbang’ yang sampai akhir tahun 2007 lalu masih merugi ratusan milyar rupiah. Beritanya silahkan cek disini dan disini.

Sehingga, untuk industri televisi saya rasa tidaklah selalu benar bahwa hanya dengan mengikuti selera pasar – untuk mengejar rating – perusahaan akan menuai untung. Atau dengan kata lain, rating dan share yang tinggi tidak selalu memiliki korelasi positif dengan keuntungan perusahaan (revenue). Padahal tanpa keuntungan yang memadai, tak mungkin suatu perusahaan televisi dapat terus bertahan dan melakukan siaran. Kecuali bila pendiriannya dimaksudkan sebagai bisnis nirlaba (adakah?!).

“tidak selalu benar bahwa hanya dengan mengikuti selera pasar – untuk mengejar rating- perusahaan akan menuai untung”

Hasil rating AGBNielsen juga tidak memiliki hubungan dengan kualitas suatu acara. Acara yang secara kualitas di nilai bagus dalam arti sesuai dengan norma-norma masyarakat dan memiliki misi pencerahan belum tentu memiliki rating yang baik. Yang sering terjadi justru sinetron percintaan dengan kualitas apa adanya, tayangan mistis dengan dukun2nya yang membodohkan, maupun reality show dengan kadar pendidikan rendah, yang meraih rating tinggi.

Banyak pihak tidak percaya, melakukan protes dan menggugat hasil riset AGBNielsen. Tapi di pihak lain, ada pengelola stasiun tv yang berbunga2 dan bangga karena tayangan mereka meraih rating tinggi. Padahal bisa jadi justru tayangan tersebut yang membuat mata para pemerhati pendidikan mendelik marah.

Protes dan gugatan itu di jawab oleh AGBNielsen dengan argumentasi bahwa riset mereka di dasarkan pada metode kuantitatif, bukan kualitatif. Hasil dari survei ini diperlukan oleh industri untuk mengetahui jumlah pemirsa, profil pemirsa, berapa biaya dalam beriklan untuk menjangkau sejumlah pemirsa tertentu, dsb.

Informasi2 lain yang menyangkut kualitas program, alasan responder untuk menonton program tertentu, gaya hidup, perilaku belanja, dsb. tidak bisa diungkap. Untuk itu AGBNielsen menyerahkannya pada industri (televisi) untuk melakukan riset sendiri secara kualitatif untuk melengkapi hasil riset mereka.

***

Terhadap fenomena tayangan ‘terserah pasar’ ini, pihak yang sangat pro kebebasan berekspresi akan mengatakan:

“biarkan masyarakat sendiri yang menilai dan mem-filter..” atau
“biarkan saja.. nanti juga akan berlaku seleksi alam..” atau
“mumpung laku.. produksi jalan terus.. efek negatif? itukan bagaimana cara mereka menyikapinya saja..” dll…

Namun ada juga yang berpikiran lain, yaitu mereka yang masih punya cukup idealisme. Pihak ini berpendapat bahwa kebebasan itu memang penting, tapi tetap harus ada norma-norma yang membatasi agar tidak kebablasan.

Pengelola televisi pun demikian, ada yang ikut saja pada arus selera pasar dan ada juga yang masih memiliki cukup idealisme. Yang ikut arus pasti akan terus atau latah membuat program2 acara yang memiliki tema sama atau mirip dengan acara yang sedang ber-rating tinggi. Sedangkan yang memiliki cukup idealisme akan berpikir secara kreatif untuk membuat acara tandingan yang bisa menjadi alternatif tontonan yang memiliki nilai tambah bagi pemirsanya.

Bismillahirahmannirrahim..

Wal ‘ashr. Innal insaana la fii khusr. Illal ladziina aamanuu wa ‘amilush shaalihaati wa tawaashau bil haqqi wa tawaashau bish shabr.

I swear by the time. Most surely man is in loss. Except those who believe and do good, and enjoin on each other truth, and enjoin on each other patience. (Quran Surah Al-Asr 1-3)

Year’s end is neither an end nor a beginning but a going on, with all the wisdom that experience can instill in us. ~ Hal Borland

Happy New Year 2008
As I believe.. there’s always hope for a change.. to the better path, of course.. Amiin.

[update at Muharram 1, 1429H / January 10, 2008]

We will open the book. Its pages are blank.
We are going to put words on them ourselves.
The book is called Opportunity.
And its first chapter is New Year’s Day. ~ Edith L. Pierce

Happy New Hijriyah Year 1429H

Rabu malam 26 Desember 2007, MetroTV menayangkan secara langsung acara grandlaunching Visit Indonesia 2008.

Visit Indonesia 2008

Acaranya sangat sederhana, seperti acara konser musik biasa. Tidak ada tari2an daerah.. dan tidak ada permainan alat2 musik tradisional asli Indonesia. Panggungnya juga di set sederhana dengan desain suasana candi Borobudur. Saking sederhananya tadinya saya pikir ini hanya acara softlaunch saja, ternyata memang benar2 grandlaunch dari sebuah hajatan besar bangsa untuk tahun 2008.

Sambil menonton itu saya menunggu-nunggu penampilan yang extra yang mungkin akan muncul. Misalnya pertunjukan tari Saman dari Aceh, tari Piring dari Padang, tari Kecak dari Bali, atau bahkan Kuda Lumping dan juga Reog Ponorogo. Saya terus menanti.. berharap juga akan ada pertunjukan alat musik angklung, atau gamelan, atau mungkin tifa dari Papua. Hmmm.. ternyata penantian saya sia-sia belaka.. tak ada satupun dari tari2an dan alat musik tradisional daerah yang muncul!

Tamu2 asing saya lihat juga sedikit, sepertinya hanya dubes AS saja yang sering di sorot kamera dan disebut oleh MC (Tantowi Yahya & Maudy K). Saya tidak tahu apakah diantara penonton asing yang lain ada perwakilan dari biro wisata dan/atau wartawan dari negara2 yang potensial untuk mendatangkan banyak wisatawan asing.Pemberitaan di media cetak dalam negeri tentang acara ini pun saya lihat hampir tidak ada. Hari Kamis kemarin saya cek di tiga suratkabar nasional: Kompas, Media Indonesia, dan Republika, hanya Kompas yang memberitakan tentang acara ini. Cuma satu kolom dan bukan di halaman utama. Mungkinkah para pemimpin/dewan redaksi media cetak nasional tidak di undang ke acara itu..(??)

Atau mungkin para redaktur media berada dalam dilema dalam menentukan headline berita, karena pada hari yang sama (Rabu 26/12/07) terjadi banyak bencana di berbagai daerah: tanah longsor di Tawangmangu, banjir di Solo, Tegal, Semarang, Malang, dll.. . Jika sudah begini nurani dan rasa prihatin yang berbicara, berita bencana alam harus di dahulukan. Saya setuju…

Namun, bagaimanapun saya merasa bahwa acara peluncuran sebuah proyek besar untuk mengembalikan citra bangsa yang terpuruk ini terlalu sayang jika hanya diisi dengan sebuah konser musik biasa. Mohon maaf Pak Menteri, tapi menurut saya dari sisi acara secara keseluruhan, sang penyelenggara (EO) terlihat seperti kekurangan konsep mau membuat acara seperti apa. Kalau isinya hanya sekedar nyanyi-nyanyi, panitia 17an tingkat kelurahan pun saya rasa sanggup menggelarnya.

Kemudian dari sisi promosi, rasanya Departemen Kebudayaan dan Pariwisata perlu ‘belajar’ pada Kementrian Bidang Perekonomian pada saat menyelenggarakan Indonesia Infrastructure Summit tahun 2005 dan 2006 lalu. Acara tersebut diliput media secara lumayan (bukan besar2an, tp proporsional) baik dari dalam maupun luar negeri.

***

Satu hal yang membuat saya excited adalah klip iklan Visit Indonesia 2008-nya yang bagus. Klip2 itu juga sudah tersedia di Youtube, dibawah ini adalah url2-nya:

http://www.youtube.com/watch?v=dO6u0oW2gLU



Ada lagi hal menarik lainnya, yaitu tentang website untuk mendukung program Visit Indonesia 2008 yang beralamat di http://www.my-indonesia.info.

Visit Indonesia 2008

Pendapat saya kurang lebihnya sama dengan yang di tulis oleh Menteri Desain Republik Indonesia:

“.. nama situs kurang praktis karena ada tanda “-” dan kenapa “.info” bukan “.id…” “

Hmm… namun.. lepas dari semua tulisan saya diatas, dengan segenap hati dan sebatas kemampuan.. saya akan dukung proyek Tahun Kunjungan Wisata Indonesia 2008 ini.

Semoga citra bangsa dapat di pulihkan.. semoga harkat dan martabat bangsa dapat terangkat.. semoga jumlah wisatawan asing dan domestik dapat meningkat.. dan yang lebih penting semoga target pendapatan negara dari sektor pariwisata dapat tercapai, mudah2an malah berlebih. Amiin…

Oya, satu lagi.. mudah2an mulai tahun depan ketika saya buka yahoo.com sudah akan muncul banner iklan Visit Indonesia 2008 sesering munculnya banner iklan wisata negeri jiran tahun 2007 ini (sambil mikir.. dana bikin website 17,5 milyar termasuk buat iklan di yahoo gak yah..?).

Akhirnya hari Ahad 16 Desember lalu atas saran seorang teman via email (Mellita) saya menghubungi Caroline Telkomsel (116). Mba’ Caroline memberitahu bahwa untuk menghentikan pencurian pulsa oleh content provider 9122 saya hanya perlu mengirimkan SMS yg isinya ‘OFF’ saja ke 9122.

Gak pake lama, saya langsung kirim SMS ‘OFF’ dan kemudian mendapat reply singkat: “Anda telah berhenti berlangganan sms push di 9122”.

Mujarab… keesokan harinya sampai sekarang saya tidak menerima sms lagi dari si pencuri pulsa ini… Alhamdulillah🙂

Oya, ternyata content provider 9122 ini termasuk perusahaan nakal, karena hasil dari tanya jawab saya dengan mbah google menghasilkan berita ini:

BRTI Akan Panggil Penyedia Konten Nakal
Rabu, 05 Desember 2007 | 19:07 WIB
TEMPO Interaktif, Jakarta:

Badan Regulasi Telekomunikasi Indonesia (BRTI) akan memanggil empat penyedia konten (content provider) telepon seluler pekan depan. Sebab empat penyedia konten itu tidak mencantumkan nama dan nomor call center yang jelas.

Anggota BRTI, Heru Sutadi, mengatakan empat penyedia konten itu adalah 9200, 9122, 9400, dan 9877. Penyedia konten ini juga melakukan aktifasi tanpa persetujuan konsumen. Hal ini melanggar regulasi yang mengatur fitur berbayar.

Layanan berbayar, kata Heru, harus mendapatkan persetujuan terlebih dahulu dari konsumen. Apalagi nilai layanan empat penyedia konten itu tidak sesuai dengan konten yang diterima. Harga per pesan singkat mencapai Rp 2700, tapi isinya tidak sesuai.

“Kami akan minta klarifikasi mereka,” kata Heru di Jakarta hari ini. Selain itu, operator telepon seluler yang memfasilitasi layanan empat penyedia konten itu juga akan dipanggil. “Kami ingin tahu mengapa mereka menayangkan konten seperti itu,” kata dia.

============================================

Selasa 11 Desember 2007 pukul 07.45 saya masih menerima SMS dari 9122. Kali ini isinya sbb:

“Siapa yg mngajak pd jln petunjuk utknya pahala sebesar pahala org yg mngikutinya. Siapa yg mengajak pd jln kesesatan utknya dosa sebesar org yg mngikutinya.”

Saya yakin semua akan setuju mengatakan bahwa isi sms tersebut bagus, mengajak kita pada kebaikan. Sip banget kan? Dan mungkin pihak penyedia layanan SMS 9122 akan berfikir bahwa mereka telah dan sedang berbuat kebaikan dengan menyediakan layanan SMS tersebut.

Namun … Bagaimana jika SMS tersebut di kirimkan dengan mengutip pulsa kita sebesar Rp 1100,-/sms per hari, dan – ini yang parah – saya tidak pernah merasa melakukan registrasi untuk layanan tersebut..?

Hmm ok.. saya masih mencoba untuk sabar.

Sehari sebelumnya, yaitu Senin sekitar jam 09.54 saya mencoba mengirimkan SMS ke 9122 yang isinya ‘UNREG’ saja. Ini saya lakukan karena saya tidak tahu apa keyword untuk menghentikan layanan tersebut. Pancingan ini berhasil, saya mendapat reply yang isinya pemberitahuan keyword salah dan informasi keyword ‘MENU’ untuk mendapatkan info lebih lanjut.

Selanjutnya saya kirim SMS ‘MENU’ ke 9122 dan mendapat reply berikut:

“Layanan 9122 yg tersedia: 1. REG QURAN 2. REG HUMOR 3. REG CINTA 4. REG PS. Pilih salah satu layanan yg tersedia, krm ke 9122. Cth: REG HUMOR”

Saya berfikir,  karena SMS yang saya terima isinya tentang kajian Islam, maka untuk menghentikan layanan tersebut saya harus mengirimkan SMS ke 9122 dengan isi ‘UNREG QURAN’, walaupun saya tidak pernah melakukan registrasi sebelumnya.

Tak lama kemudian saya mendapat reply yang isinya:

“Anda sdh tdk terdaftar lg di kajian & intisari Quran. Ktk REG QURAN, sms ke 9122 utk kembali gabung & raih hp islami tiap harinya & paket umroh tiap bulannya!”

Berhasil?! Ternyata TIDAK sodara-sodara.. karena hari Selasa saya masih menerima SMS seperti yang saya ceritakan diatas. Dan berturut-turut sejak Senin itu sampai Kamis ini saya masih terus menerima SMS dari 9122, walaupun sudah TIGA KALI saya mengirimkan ‘UNREG QURAN’ dan selalu mendapat reply seperti diatas.

Malam ini pulsa Simpati saya tinggal Rp 305,-. Sengaja tidak diisi ulang dulu, saya mau tahu apakah besok pagi mereka masih mengirimkan SMS kajian itu lagi. Kalo iya.. keterlaluan juga ya.. karena artinya pulsa saya akan jadi minus 795 rupiah😀.

Oya, tentang hal ini saya sudah mengirimkan keluhan ke BRTI (Badan Regulasi Telekomunikasi Indonesia).

Judul telah di modifikasi dengan menambahkan tanda kutip pada kata Pledoi untuk menandakan bahwa tulisan bang Yusril  bukan pledoi dalam arti sesungguhnya yang di bacakan di sidang pengadilan sebagai pembelaan… Terima kasih u/ bang Yusril atas komentar dan koreksinya..

Setelah ditungu-tunggu, akhirnya hari Jumat – 30 November 2007 lalu, bang Yusril Ihza Mahendra (YIM) melalui blog-nya menceritakan secara detil segala kisah dan pertimbangan hukum di balik pencairan ‘uang Tommy’ di Bank Paribas melalui rekening Departemen Hukum dan HAM. Walau katanya ada keengganan untuk membuat tulisan tersebut, tapi menurut saya itu memang HARUS dibuat sebagai jawaban sekaligus pembelaan diri untuk meng-counter opini publik yang sudah berhasil tercipta. Saya merasa tulisan tersebut dibuat secara jujur. Wallahu’alam bissawab.

Sebelum membaca tulisan itu, pemberitaan di media massa termasuk di dalamnya acara debat dan dialog di media elektronik telah membuat alam pikiran saya untuk bersetuju pada kesimpulan bahwa bang Yusril punya andil kesalahan pada kasus tersebut. Saya sependapat dengan argumen seragam yang menyatakan bahwa adalah suatu hal yang aneh rekening pemerintah digunakan sebagai transit transfer uang dari luar negeri untuk sebuah perusahaan swasta.

***

Reformasi memang telah menghasilkan buah kebebasan bagi setiap orang untuk mengeluarkan pendapat dan pikiran masing2, baik yang bertindak atas nama pribadi maupun golongannya. Media cetak dan elektronik juga telah mendapatkan ruang kebebasan yang lebar untuk menuliskan dan menayangkan segala sesuatu berdasarkan sudut pandang, tujuan, maupun sasaran si wartawan atau pemilik media tersebut.

Opini publik bisa mudah dibangun jika media kompak dan/atau masyarakat terbiasa menerima informasi satu arah. Dan rasanya saya adalah salah satu korban dari ‘kekompakan’ media pada kasus ini. Padahal AlQuran berabad-abad lalu telah memperingatkan untuk melakukan konfirmasi (tabayyun) atas berita yang diterima (QS. Al Hujurat(49) : 6). Ahh.. rasanya saya perlu untuk meminta maaf atas kesimpulan yang keliru tersebut.

After all.. Mudah2an saya dapat memetik banyak hikmah dan pelajaran darinya dan juga dari bloggers lain. Amiin..

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.