Seminggu yang lalu, pada suatu kesempatan ngobrol dengan pakde Tris di rumah beliau di Kalibata, kami mendiskusikan tentang produk acara2 di televisi.

Mulai dari tayangan kekerasan sampai yang berbau klenik (tapi di bungkus dengan istilah religius). Tentang sinetron dimana yg jahat di gambarkan sejahat2nya dan yg baik digambarkan begitu tidak berdayanya. Juga tentang anak2 usia SD yang digambarkan sudah mulai pake gincu, dsb…..

Hmm.. seperti banyak orangtua lain yang masih punya hati nurani, nampaknya pakde-ku gerah juga dengan beberapa pengelola stasiun televisi yang keliatan tidak perduli dengan akibat yang di timbulkan oleh acara yang di tayangkannya. Rating terlanjur dianggap sebagai barometer sukses tidaknya suatu acara di televisi. Padahal parameter untuk menentukan rating sendiri agaknya masih abu2.

Ada yang bilang, dengan rating yg tinggi maka pemasukan dari iklan juga pasti tinggi. Tapi ternyata anggapan itu gak selamanya betul. Ada bbrp acara yang ratingnya kecil tapi justru pemasang iklan banyak yg antri untuk bisa di tayangkan.

Sebenarnya jika saja kita mau berpikir lebih sederhana, acuan yang paling mudah dalam menentukan layak tidaknya suatu produk acara untuk ditayangkan adalah bertanya pada hati nurani. Setiap hati yang bersih pasti bisa menjawab dengan jujur apakah suatu acara memiliki efek yg positif atau negatif bagi pemirsanya. It’s just that simple!

Obrolan ini terus berlanjut sambil sesekali melirik ke tv yang sedang menayangkan acara quiz berhadiah uang milyaran.

Tiba-tiba pakde-ku yang ‘alumni’ BI ini bertanya tentang darimana sumber uang hadiah quiz tsb. Aku jawab pasti dari sponsor. “Ok sponsor, siapa?”, kata pakde-ku.

Ooppss… iya ya.. kayaknya belom pernah dengar si pembawa acaranya bilang “Hadiah uang xxxx ini dipersembahkan oleh……. “

Trus.. pakde-ku melanjutkan dengan nada serius (dan keliatannya agak khawatir) bahwa acara2 quiz berhadiah sangat besar ini bisa juga jadi salah satu metode untuk mencuci uang (money laundering).

Nah lho?!