Long Road to Heaven.. sebuah karya film terbaru yang di produseri oleh Nia Danata dan di sutradarai oleh Enison Sinaro. Film yang mulai tayang 25 Januari 2006 di bioskop tanah air ini diproduksi bersama oleh Kalyana Shira Films (KSF) dengan TeleProductions International (TPI). Film ini bercerita tentang tragedi bom Bali.

Saya tidak hendak membahas tentang tragedi maupun tentang cerita di dalam film ini, karena saya belum menontonnya. Jikapun sudah nonton nanti belum tentu juga saya akan buat laporan pandangan matanya.. hehe..

Hal yang menarik perhatian saya adalah judulnya, “Long Road to Heaven”. Mmmh.. Jalan Panjang Menuju Surga.. sebuah kalimat yang membawa pikiran saya tentang bagaimana kita harus berjuang melewati rintangan dan cobaan agar kelak dianggap layak untuk masuk ke suatu tempat abadi dimana terhidang segala keindahan dan kenikmatan.

    Apakah kamu mengira bahwa kamu akan masuk syurga, padahal belum datang kepadamu (cobaan) sebagaimana halnya orang-orang terdahulu sebelum kamu? Mereka ditimpa oleh malapetaka dan kesengsaraan, serta digoncangkan (dengan bermacam-macam cobaan) sehingga berkatalah Rasul dan orang-orang yang beriman bersamanya: “Bilakah datangnya pertolongan Allah?” Ingatlah, sesungguhnya pertolongan Allah itu amat dekat. [Quran Surah Al Baqarah (2) ayat 214]
    Dan sampaikanlah berita gembira kepada mereka yang beriman dan berbuat baik, bahwa bagi mereka disediakan surga-surga yang mengalir sungai-sungai di dalamnya. Setiap mereka diberi rezki buah-buahan dalam surga-surga itu, mereka mengatakan : “Inilah yang pernah diberikan kepada kami dahulu.” Mereka diberi buah-buahan yang serupa dan untuk mereka di dalamnya ada isteri-isteri yang suci dan mereka kekal di dalamnya.[Quran Surah Al Baqarah (2) ayat 25]

Sambil tetap merenungkan kalimat tersebut, pikiran saya melompat ke suatu saat sekitar 3 bulan yang lalu. Ketika itu saya terlibat obrolan dengan Eko Heryadi, bekas teman sekantor yang resign akhir tahun lalu. Kira-kira begini percakapannya:

    Eko Heryadi (EH): Banyak ulama yang terlalu mengumbar Kasih Sayang Allah..

    Saya: Lho.. apa salahnya, Allah memang Ar-Rahman wa Rahiim kan?

    EH: Benar.. tapi akibat dari ucapan ulama2 itu, banyak orang yang justru meng’halal’kan perbuatan salahnya, dengan alasan Allah Maha Penyayang.. nanti tinggal bertobat saja.

    Saya: Mmmh… trus…?

    EH: Kamu percaya bahwa setiap muslim pasti masuk surga?

    Saya: Insya Allah begitu.. tapi bagi yang dosanya lebih banyak dari amal kebaikannya akan lebih dulu di bersihkan di neraka..

    EH: (sambil senyum)See.. Kasih Sayang Allah dengan memasukkan setiap muslim ke surga di dahului dengan memasukkannya ke neraka dahulu.. Surga dengan segala kenikmatan di dalamnya tidak di izinkan bagi mereka yang masih memliki dosa.

Dugh… saya teringat lagi dengan ucapan Pak JK di Detik menanggapi banyaknya aksi kerusuhan bernuansa agama di tanah air.

“Kenapa konflik seperti di Poso, Ambon mudah sering terjadi, karena pemimpin agama semua menjual murah surga,” demikian kata beliau.

“Kalau bunuh orang, bakar masjid atau gereja bisa masuk surga… Begitu dijual murah, orang ya beli murah juga. Jadi semua tokoh-tokoh agama harus ikut bertanggungjawab.”

Mmmh… jadi walau kasih sayang-NYA mendahului amarah-Nya.. tetap saja surga-NYA tidak di obral murah. Wajib ada perjuangan untuk mencapainya.. ada harga yang harus di bayar.. ada pengorbanan yang harus di lakukan.. ada cobaan, rintangan, dan godaan yang harus di lalui..

Memang sebuah jalan yang panjang untuk mencapai surga.. Mengutip dari trailer film diatas: “there’s no shortcut to heaven…” tidak ada jalan pintas menuju surga..

Btw, di Kompas kok di terjemahkan menjadi Jalan Pintas Menuju Surga yah?! binun…