Ada tulisan menarik di Kompas Community yang kebetulan pas benar dengan apa yang ada di dalam pikiran saya beberapa hari ini.

Tulisan tersebut di buat oleh Bung Fatso di Sidney. Di bawah ini, yang berhuruf miring adalah nukilan dari tulisan tersebut:

 

Tupolev Tu-144

Meniru adalah suatu bagian dari proses belajar. Diperlukan kemampuan yang setidaknya hampir setara untuk bisa meniru dengan baik. Konon dulu mata-mata Uni Soviet bisa berhasil mendapatkan cetak biru pesawat Concorde, tapi anehnya prototipe pesawat Tupolev Tu-144 yang bentuknya sangat mirip dengan Concorde bisa terlebih dahulu melakukan penerbangan perdananya.

Dari pencarian via google, Tupolev Tu-144 memang berhasil diterbangkan pertama kali pada 31 Desember 1968, lebih awal 3 bulan daripada Concorde yang melakukan terbang perdana pada 2 Maret 1969.

Sebagai bagian dari proses belajar, maka untuk bisa meniru dengan baik kita harus mengerti secara detil tentang cara kerja produk yang di jadikan obyek ‘belajar’ tersebut. Disamping intelijensia serta kemampuan teknis, kreatifitas juga di perlukan ketika kita ‘terpaksa’ melakukan peniruan.

Bagaimanapun juga sebuah pesawat terbang adalah suatu sistem yang sangat kompleks, hingga tidak mungkin bisa ditiru sama persis … sang penjiplak juga harus punya kemampuan berinovasi agar jiplakannya bisa berfungsi dengan baik atau bahkan melebihi aslinya.

Bukan cuma Uni Soviet yang melakukan peniruan produk berteknologi tinggi, kompatriotnya di Asia: China, saat ini pun di tuding banyak melakukan penjiplakan atas produk teknologi dari negara lain.

Diantaranya.. (masih dari tulisan Bung Fatso)

Empat tahun yang lalu Cisco pernah menuntut Huawei Technologies ke pengadilan Texas dengan tuduhan telah melakukan ‘reverse engineering‘ (bahasa kerennya untuk menjiplak) produk ‘router’ mereka. Mereka bisa membuktikan bahwa ‘bug’ yang sama bisa muncul pada produk Huawei.

Dan seperti sama-sama kita sudah tahu, bukan cuma produk IT yang di tiru China. Saat ini hampir segala bidang produksi baik yang berteknologi tinggi maupun rendah sudah mereka kuasai. Waktu Jepang ‘marah-marah’ karena menuduh China menjiplak teknologi otomotif mereka (terutama motor roda dua), China menjawab dengan pernyataan yang kurang lebih menyamakan bahwa apa yang dilakukan oleh China sekarang juga pernah di lakukan oleh Jepang ketika dulu mulai membangun industri otomotif yang menjiplak teknologi mobil Eropa/Amerika.

China bahkan juga telah berhasil membuat pesawat tempur sendiri, Chengdu J-10, yang (lagi-lagi) dianggap meniru pesawat tempur buatan negara lain. Tuduhan ini bisa kita baca secara jelas di http://www.answers.com/topic/chengdu-j-10:

Having been designed under much secrecy, many details of the J-10 remain unknown and are subject to much speculation. Professor David L. Shambaugh reported that development for the J-10 was based on a single F-16A/B that was acquired from Pakistan in the early 1990s.

Hmm.. melihat data-data itu, bila negara lain mampu melakukannya.. Could we do the same…?

Untuk Indonesia, nampaknya bukan hanya masalah mampu atau tidak. Saya yakin kita sangat mampu.. lha bikin pesawat saja bisa kok. Kreatifitas? Jangan khawatir, kita bisa menganggap pertanyaan ini tidak ada, karena menurut psikolog Ibu Rose Mini Adi Prianto, setiap orang itu pasti kreatif tinggal bagaimana mengelolanya saja.

Trus apa yang kurang kita miliki?

Hmmm.. kayaknya kita hanya kurang berani untuk menjiplak produk berteknologi tinggi. Sampai saat ini kita hanya berani untuk menjiplak mentah-mentah tanpa inovasi produk berteknologi rendahan. Bukan menjiplak malah, tetapi membajak. Karena menjiplak adalah membuat produk yang mirip (tidak sama persis) dengan aslinya lalu di beri nama/merk berbeda, sedangkan membajak adalah membuat produk yang persis sama dengan aslinya dan kemudian diberi nama/merk yang sama pula.

## Gambar di ambil dari situs ini .